Minggu, Mei 13, 2012

Love is a Free Will

Karena belakangan ini postingannya tentang hubungan dua orang dan juga cinta... Gw teringat akan sebuah pelajaran yang diambil dari kelas S2 gw di mata kuliah Etika dan Filsafat Komunikasi.

Dalam salah satu sesi kelas, sang dosen tiba-tiba membahas soal apa itu cinta. Saat itu perhatian gw yang sebenarnya sudah melayang entah kemana, langsung fokus ke muka si Bapak. Posisi duduk yang tadinya kepala nyaris nempel di meja, langsung tegak kayak anak SD di hari pertama sekolah. Dan mata gw yang tadinya udah kriyep-kriyep nahan kantuk, langsung melek menunggu keluarnya kata-kata filsuf.

Dia pun berkata, "Mencintai seseorang itu tidak didasarkan pada perasaan atau emosi, tapi didasarkan pada kehendak bebas kita dalam  memilih untuk mencintai orang tersebut."

Hmmm...
Entah otak gw yang saat itu memang masih loading karena baru 'on' lagi setelah nyaris terlelap, atau memang karena pemikirannya kurang gw mengerti, gw hanya bisa mengernyitkan dahi gak ngerti.

Kok bisa-bisanya si Bapak bilang bahwa cinta itu bukan perasaan ataupun emosi?

Gw lalu hanya lirik-lirikan dengan teman sekelas S2 yang lain, yang memang semua pada bermasalah dengan cinta saat itu. Wkwkwkwkwk... termasuk gw juga. Kalo gak salah waktu itu kelasnya tanggal 1 Februari 2012 dah.

Setelah lirik-lirikan, senyum-senyum gak jelas satu sama lain, gw mencoba mencerna perkataan si Bapak Filsuf tersebut.

"Aaaahhhh udah serius nih, Pak! Kok penjelasan tentang cintanya ngebingungin sih??", teriak gw dalam hati saat itu.

Karena otak udah keburu jalan, jadi  gw lanjut memikirkan kata-kata si Bapak. Jujur aja saat itu sama sekali gak sepaham dengan perkataan si Bapak. Tapi… lama-kelamaan, gw akhirnya paham dan bahkan sangat setuju dengan pemikiran si Bapak ini. Apalagi ditambah dengan berbagai pengalaman dan cerita yang gw lihat, dengar, dan rasakan. (Hahaha kayak judul lagu Sheila on 7 yah…)


Dan akhirnya gw pun merenung... (layaknya filsuf)


Ketika mencintai seseorang, tentu ada perasaan dan emosi khusus yang kita alami dalam diri. 
Ada rasa tertarik
dimana kita selalu mencari sosok dia... dan meski hanya terlihat sekilas di ujung mata, pasti rasanya bahagia
Ada rasa ingin dekat
dimana kita ingin menerobos batas ruang sosial yang biasanya berlaku untuk orang lain
Ada rasa berdebar
dimana setiap tatapan mata, desis suara, senyuman, dan sentuhan bisa membuat jantung berdegup lebih cepat dan aliran darah menderu lebih deras
Ada rasa bahagia:
yang menjalar cepat ke setiap sudut syaraf meski tanpa penyebab yang jelas
Ada rasa rindu:
dimana setiap ruang dan jarak yang memisahkan terasa mulai menyiksa
Ada rasa malu:
ketika dia mendekat, melihat, atau hanya sekedar heran melihat tingkah kita yang tidak biasa
Ada rasa cemburu:
dimana ketidakrelaan tumbuh ketika dia dekat dengan orang lain melebihi kita
Ada rasa sedih:
dikala rasa itu tidak tersampaikan atau tidak bisa disampaikan
Dan berbagai rasa dan emosi lain yang sering kali menghantui dan membayangi di hampir setiap detik yang kita lalui.

Tapi... di antara berbagai rasa dan emosi yang menjalar di setiap sendi tubuh kita, ada satu hal yang sepertinya memang sering kali terlupakan atau tertutup oleh berbagai rasa itu. Yaitu keinginan kita untuk pada akhirnya akan mencintai atau tidak.

Hal ini baru gw sadari setelah beberapa postingan sebelumnya dan juga setelah mendengar berbagai kisah yang gak gw tulis di sini... (kapan2 gw lanjut ah tulisan soal relationshipnya). Bahwa ya, cinta itu adalah keinginan bebas yang kita miliki. Sebenarnya kita bebas untuk akhirnya memilih untuk menerima orang tersebut atau tidak. Terkadang memang semuanya begitu terlihat indah dan hati pun seakan 'terdesak' untuk memulai sebuah hubungan, padahal ada loh campur tangan dari 'free will' tersebut.

Dari contoh kasus yang pernah gw bahas misalnya:
Kasus 1: dimana cowonya udah merasa suka dan sayang sama si cewe, tapiiii gak pernah dijadiin. Bukankah ini berarti si cowo menggunakan keinginan bebasnya untuk hanya sekedar dekat tanpa ada ikatan?
Kasus 2: ketika ia bertanya haruskah menerima kembali kekasihnya yang sudah menduakan. Jelas ia juga mempertimbangkan keinginan bebasnya apakah akan merangkai kembali hubungan atau meninggalkan saja jejak-jejak yang pernah menginjak hatinya. Meskipun pada saat itu, perasaannya begitu besar pada sang mantan.
Kasus 3: ketika kebutuhan akan orang baru timbul untuk melupakan yang lama. Bukankah ini juga merupakan keinginan bebas yang dimiliki olehnya untuk melupakan cinta lama yang masih bersemi dalam hati?
Kasus 4: dikala ia tetap bersedia menerima seorang kekasih baru meski sang kekasih ini akhirnya menyatakan bahwa ia belum bisa melupakan bayang-bayang mantannya (yang ini ada dipostingan berikutnya yah...)

Atau mungkin dari kasus gw sendiri sama pacar yang sekarang. Di awal hubungan, memang gw tertarik ke dia. Namun, ada banyak hal sebenarnya yang menjadi pertimbangan. Mulai dari masalah usia, profesionalitas, dan berbagai perbedaan lain yang ada di depan mata kami berdua. Bisa banget loh seandainya waktu itu gw memilih untuk mengatakan tidak karena pertimbangan tersebut. Begitu juga dengan dia yang bisa mundur karena konsekuensi yang harus kita sama-sama jalani.

Namun, gw memilih untuk memberi kesempatan pada dia, dan dia pun memilih untuk mengambil kesempatan tersebut. Hingga kami pun memutuskan mencoba untuk membangun hubungan hingga saat ini. Tanpa disangka, kenyamanan dan rasa sayang pun tumbuh di antara kami. Hmm kapan-kapan cerita soal ini aahhh...

Nah, dari berbagai cerita di atas, barulah gw menyadari apa yang dimaksud oleh dosen gw tersebut tentang perkataannya bahwa, "Love is a free will."

And yes!! Now I fully agree with that.

Sungguh mata gw rasanya terbuka dan pikiran pun jadi tersadar. Bahwa sebenarnya dalam cinta itu kita memiliki kebebasan. Keputusan untuk mencintai ataupun tidak mencintai sebenarnya merupakan hal yang kita miliki namun terkadang terhalang oleh rasa yang bergejolak saja.


Jadi, untuk kamu yang merasa bahwa sulit untuk melupakan, sulit untuk move on, sulit untuk jatuh cinta, atau sulit untuk menerima kekurangan pasanganmu, ingatlah bahwa mencintai ataupun tidak mencintai adalah keinginanmu sendiri. Gunakan keinginanmu untuk mencintai pasanganmu, dan yakinkan diri kamu bahwa kamu memahami segala konsekuensi atas keinginan tersebut dan bertanggung jawab atasnya. Gunakan juga keinginanmu untuk meninggalkan atau melupakan pasanganmu, dan yakinkan bahwa itu adalah keputusan dan keinginanmu sendiri, bukanlah paksaan atau karena keadaan.


Cinta itu tidak buta. Tapi ketika sekitarmu bertanya kenapa kamu mencintai orang yang tidak layak bagimu di mata mereka, maka saat itulah kamu telah menggunakan keinginan bebasmu untuk mencintai dia.


PS: Tulisan ini dipersembahkan untuk dosen S2-ku untuk mata kuliah Filsafat Ilmu & Etika dan Filsafat Komunikasi, Bapak Mikhael Dua. Terima kasih banyak atas satu tahun penuh dengan kata-kata bijak dan ajakan untuk merenungnya, Pak. Sungguh hanya Bapak yang memperkenalkan saya pada filsafat dan membuat saya jatuh bangun memahaminya.

Regards,

 

 ~If you die trying for something important, then you have both honor and courage~

Minggu, April 01, 2012

Relationship Part 3

Oke. Pertama-tama gak nyangka kalo panjang juga ya postingan tentang relationship...

Padahal niatnya mah mau bikin satu postingan aja, eh keterusan ceritanya. Haha memang yah kalo bahas tentang hubungan dua insan (tsah...) pasti seru dan gak ada abisnya. --sebenernya entah memang seru atau gw aja yang keasyikan cerita?--

Nah kali ini masih tentang hubungan antara dua orang dimana keduanya masih belum move on. Kalo kemarin, tentang temen yang bingung apakah baik memberikan kesempatan ke-2 untuk mantan yang pernah selingkuh, kali ini gw mau cerita tentang hubungan yang memang gak akan bisa bersatu tapi dua-duanya masih gak bisa lepas. 

Ehhemm... Bukan! Ini bukan cerita tentang gw sendiri. Yeah kasusnya agak mirip sih, tapi ini beneran bukan tentang gw.

Jadi ceritanya ada seorang cewek yang curhat ke gw kalo dia menjalin hubungan dengan seseorang yang udah nyakitin dia. Tapi... si cewek ini masih begitu sayangnya ke si cowok. Padahal si cowok katanya hanya ingin melanjutkan hubungan sebagai kakak-adik saja. Eaa... klasik bukan? Kalo kata Raditya Dika, "Dibalik 'adek-kakak-an, ada dua orang yang udah deket, yang satu suka, yang lain enggak tapi juga gak mau kehilangan.'"

Hmm plus mereka beda agama. Nah bagian ini doang yang rada mirip sama pengalaman gw dulu. Tapi selebihnya beda banget.

Dalam proses di cewek melupakan cowok tersebut, dia bertanya sama gw "apakah butuh cowok baru untuk melupakan cowok yang lama ini?"

Bagaimana menurutmu? Benarkah seseorang membutuhkan orang yang baru untuk melupakan cinta lama?

Feel free to comment about this yah... Hehehe

Nah, klo gw sendiri berpendapat, yah memang terkadang memang untuk melupakan orang lama, kita butuh orang baru. Tapiii hanya terkadang yah... gak harus selalu seperti itu. Justru kalo gw lebih setuju bahwa ketika kita kehilangan seseorang, ada baiknya kita memberi waktu pada diri sendiri untuk 'sembuh' dulu. Baru ketika sudah siap lagi untuk menjalin hubungan, saat itulah kita buka hati untuk orang baru.

Kenapa begitu? Karena terkadang, ketika kita menggantikan posisi orang lama tersebut dengan orang baru, padahal kita masih begitu terluka dengan kehilangan yang sangat, maka kita masih akan sering terbayang orang lama. Dan yakinlah bahwa si orang baru pun mungkin akan merasa sakit dengan apa yang kita lakukan padanya. Menurut gw sih itu gak adil buat si orang baru. Kecuali kalau memang si orang baru itu benar2 bisa membuat kita lupa akan si orang lama. Atau jika si orang baru itu betul2 paham akan konsekuensi menjalani hubungan dengan kita yang masih belum move on.

Buat gw yang juga pernah kehilangan dan tersakiti, saat itu gw memilih untuk sendiri dulu. Gw belum siap untuk menjalin hubungan baru. Gw masih tidak siap jika akhirnya akan merasakan sakit lagi. Jadi saat itu gw memilih untuk sendiri dulu. Toh, sendiri bukan berarti kesepian kan? Dan sendiri juga tidak berarti gak bahagian. Memang sih saat itu butuh waktu sekitar:
- satu bulan untuk memaafkan diri gw dan kebodohan gw yang keukeuh bertahan sama cowok yang jelas-jelas udah gak peduli sama gw
- empat bulan pertama untuk akhirnya bisa memaafkan cowok tersebut
- dan satu tahun untuk akhirnya menyadari bahwa gw sudah tidak merasakan sakit lagi

Prosesnya memang bisa dibilang panjang dan tidak mudah. Tapi kalau kita mau berusaha untuk memaafkan dan melupakan, yakinlah pasti bisa.

Dan setelah saat itu, barulah gw yakin bahwa sudah saatnya untuk membuka diri untuk orang baru.
Dan bahwa gw sudah siap untuk menjalani sebuah hubungan baru dengan segala konsekuensinya...
Percaya gak percaya, setelah itu langsung banyak banget cowok oke yang berseliweran. Yang ngejar pun banyak wkwkwkwk... 
Gw sampe ngomong dalam hati gini, "Et dah kemana aja gw selama ini... Banyak banget yah cowok yang oke ternyata."

Hahahaha...

Dan hati gw jatuh juga sama pacar yang sekarang. Seandainya kamu, pembacaku, bisa merasakan juga bahwa jatuh cinta dan menjalani hubungan yang baru tanpa ada bayang-bayang cinta lama itu ternyata begitu menyenangkan. Rasanya lebih lepas dan seru aja... dibandingkan dengan adanya dua sosok yang bersesakan dan rebutan tempat di hati kita. Dan semoga pacar gw pun memulai hubungan ini tanpa ada bayang-bayang siapapun dari masa lalu. Amiinnnn...

Well, apapun yang menjadi pilihanmu untuk move on, yang penting kamu tahu masing-masing konsekuensi dari pilihan tersebut. Hehe jangan lupa juga untuk pastikan bahwa ada seseorang, walaupun hanya satu, yang mendukung apapun keputusan yang kamu ambil itu.

^^

Regards,


 ~If you die trying for something important, then you have both honor and courage~